Sabtu, 28 November 2020
obrolan diwarung kopi
setiap kali bertemu dengan dia, selalu saja di warung kopi. dia adalah seorang temanku yang sedang bermetamorfosis menjadi seorang abdi negara. ini adalah tes kedua yang diikuti setelah tes pertamanya gagal. dan alhamdulillah pada tes kedua ini dia lolos. namun dia sering bilang kalau keberhasilannya kali ini karena belajar dari pengalamanku yang hampir lolos sebagai abdi negara. ya abdi negara masih menjadi pekerjaan yang di favoritkan oleh anak-anak kelahiran tahun 80 an. salah satunya aku. dan karena faktor usia aku sudah tidak bisa mengikuti (batas maksimal usia 35 tahun). namun begitu aku masih bisa mengikuti PPPK, yang katanya tidak ada pensiun.
bagiku jadi abdi negara atau tidk bukan suatu masalah, yang penting terus mengabdi dan berkarya dengan kemampuan yang kita miliki. obrolan siang ini tentang penelitan yang akan saya lakukan untuk meraih gelar magister. berbagai alternatif ditawarkan meski kadang aku tidak begitu paham dengan apa yang akan aku lakukan. aneh juga kan, hal yang seharusnya aku kerjakan malah santai, belum bergerak sama sekali.
aku menempuh pendidikan pasca sarjana di universitas wahid hasyim semarang melalui jalur beasiswa. dan ini adalah tahun keduaku untuk segera menulis thesis. gambaran sudah ada namun ada saja kendala setiap kali akan menulis. aku lihat teman-teman sekelasku juga masih adem ayem saja. belum ada greget untuk menyelesaikan tulisan mereka. padahal tahun 2021 sudah ditarget wisuda bulan maret atau oktober. secara pribadi aku ingin ikut yang maret agar bisa segera mengikuti program doktoral. ya... efek gagal menjadi abdi negara, aku jadi perhatian sekali dengan kegiatan yang bisa menghasilkan uang. meski kadang kegiatan itu tidak sesuai dengan kompetensiku. seperti bulan kemarin aku mengikuti uji kompetensi desainer grafis dan alhamdulillah aku masuk kategori kompeten. padahal kemampuanku hanya bisa membuat desain untuk brosur sekolah. itupun masih dibantu percetakan untuk menyempurnakan tugasku.
sebelumnya aku juga pernah mengikuti pelatihan bahasa inggris, karena aku rasa perlu untuk mengembangkan kompetensiku. kukira bahasa inggris dan komputer adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. jadi aku pede saja ketika mengikuti pelatihan itu. alhamdulillah aku dinyatakan kompeten.
mungkin semua adalah efek dari gagal menjadi abdi negara dan sekarang berusaha untuk menjadi orang yang berguna bagi orang lain.
Jumat, 20 November 2020
Hari Pahlawan
Tanggal 10 november kemarin, kita memperingati hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu hari pahlawan. Hari dimana puncak perlawanan rakyat Indonesia melawan penjajah belanda yang berhasil membonceng sekutu. Sebuah peristiwa besar terjadi di Surabaya, dimana pada tanggal 10 november 945 bangsa Indonesia diminta untuk menyerah kepada sekutu. Hal itu disampaikan oleh tentara sekutu melalui pamflet-pamflet yang disebar melalui pesawat udara. Namun atas pidato bung tomo yang mampu menggetarkan hati rakyat Surabaya. Indonesia menolak menyerah bahkan melakukan perlawanan. Dalam peristiwa itu salah seorang jendral inggris berhasil dibunuh melalui bom mobil yang dipasang oleh salah seorang santri dari jombang, jawa timur.
Tentara Indonesia ketika itu terdiri dari para pemuda dan santri (siswa pondok pesantren) dimana mereka tidak hanya membuktikan bahwa mereka cinta sekali dengan negeri ini, namun mereka juga pandai mengaji. Santri yang hanya bermodal sarung dan juga peci, serta senjata bambo runcing yang banyak tumbuh di negeri ini menjadi senjata andalan menumpas penjajah.
Selain tewasnya jendral mallaby, perjuangan arek-arek suroboyo ketika itu adalah berhasil berobek bendera belanda yang berkibar di Hotel Yamato Surabaya. Bendera tiga warna, yaitu merah, putih dan biru berhasil dirobek bagian bawahnya sehingga menjadi bendera merah putih yang berkibar. Lagi-lagi peran santri tak bisa di anggap enteng, karena pemuda yang nekat naik tiang bendera dan berhasil merobek bendera belanda itu adalah santri dari jombang.
Kita tahu bahwa jombang adalah tempat kelahiran hadratus syaik KH Hasyim Asy’ari. Roisul Akbar dan juga pendiri dari organisasi Nahdhatul Ulama. Jombang terkenal dengan pondok pesantren tebuireng yang merupakan markas dari pasukan hizbullah, tentara islam yang dikemudian hari bernama TNI. Peristiwa 10 november adalah kelanjutan dari keputusan para ulama yang memberikan fatwa bahwa melawan penjajah hukumnya wajib, fatwa itu sekarang kita kenal dengan nama Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 oktober 1945, dan hari itu kita kenal dengan nama hari santri. Karena peran santri dan juga kyai yang tidak kecil demi keutuhan NKRI.
Sekarang kita telah merdeka. Musuh kita bukan lagi penjajah. Namun orang-orang yang kecewa karena mereka tidak terpilih sebagai pengurus organisasi, lalu mendirikan organisasi sendiri dan ingin merubah ideologi pancasila dengan ideologi lain, salah satunya adalah ideolgi yang berlandaskan alqur’an dan hadits yang kita kenal dengan syariat islam. Padahal para ulama sepakat bahwa ideologi pancasila adalah ijtihad mereka yang paling besar dalam merumuskan dasar Negara dan tidak akan bisa dirubah lagi. NKRI harga mati, pancasila jaya. Perlawanan sekarang lebih berat, karena kita melawan bangsa sendiri, beberapa kali kita berhasil menumpas mereka, mulai dati DI/TII, NII dan juga PKI. Namun penyakit itu sampai sekarang masih menempel dan kadang-kadang kambuh lagi. Mari kita teguhkan keyakian kita bahwa pancasila adalah ideologi yang paling baik diantara sekian banyak ideologi yang ada di dunia, karena perumusnya adalah pala ulama nusantara yang sangat memahami kondisi Indonesia seutuhnya. Mengganti ideologi pancasila akan berhadapan dengan TNI dan juga polri karena dianggap meresahkan masyarakat dan mencoba merongrong kekuasaan melalui perubahan ideologi.
Untuk itu kita harus berhati-hati dalam mengikuti kegiatan berbau islami, bisa jadi kegiatan itu baik, dibungkus dengan label syariah yang pada akhirnya justru malah merubah ideologi negara kita menjadi negara khilafah. Ikutilah kegiatan keagamaan yang sudah lazim diikuti oleh orangtua kita, kakek nenek kita seperti tahlilan dan berzanzi. Karena itu adalah istighosah kecil yang bisa kita laksanakan setiap minggu, bukan melakukan bid’ah yang sering mereka desuskan selama ini.
Tentara Indonesia ketika itu terdiri dari para pemuda dan santri (siswa pondok pesantren) dimana mereka tidak hanya membuktikan bahwa mereka cinta sekali dengan negeri ini, namun mereka juga pandai mengaji. Santri yang hanya bermodal sarung dan juga peci, serta senjata bambo runcing yang banyak tumbuh di negeri ini menjadi senjata andalan menumpas penjajah.
Selain tewasnya jendral mallaby, perjuangan arek-arek suroboyo ketika itu adalah berhasil berobek bendera belanda yang berkibar di Hotel Yamato Surabaya. Bendera tiga warna, yaitu merah, putih dan biru berhasil dirobek bagian bawahnya sehingga menjadi bendera merah putih yang berkibar. Lagi-lagi peran santri tak bisa di anggap enteng, karena pemuda yang nekat naik tiang bendera dan berhasil merobek bendera belanda itu adalah santri dari jombang.
Kita tahu bahwa jombang adalah tempat kelahiran hadratus syaik KH Hasyim Asy’ari. Roisul Akbar dan juga pendiri dari organisasi Nahdhatul Ulama. Jombang terkenal dengan pondok pesantren tebuireng yang merupakan markas dari pasukan hizbullah, tentara islam yang dikemudian hari bernama TNI. Peristiwa 10 november adalah kelanjutan dari keputusan para ulama yang memberikan fatwa bahwa melawan penjajah hukumnya wajib, fatwa itu sekarang kita kenal dengan nama Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 oktober 1945, dan hari itu kita kenal dengan nama hari santri. Karena peran santri dan juga kyai yang tidak kecil demi keutuhan NKRI.
Sekarang kita telah merdeka. Musuh kita bukan lagi penjajah. Namun orang-orang yang kecewa karena mereka tidak terpilih sebagai pengurus organisasi, lalu mendirikan organisasi sendiri dan ingin merubah ideologi pancasila dengan ideologi lain, salah satunya adalah ideolgi yang berlandaskan alqur’an dan hadits yang kita kenal dengan syariat islam. Padahal para ulama sepakat bahwa ideologi pancasila adalah ijtihad mereka yang paling besar dalam merumuskan dasar Negara dan tidak akan bisa dirubah lagi. NKRI harga mati, pancasila jaya. Perlawanan sekarang lebih berat, karena kita melawan bangsa sendiri, beberapa kali kita berhasil menumpas mereka, mulai dati DI/TII, NII dan juga PKI. Namun penyakit itu sampai sekarang masih menempel dan kadang-kadang kambuh lagi. Mari kita teguhkan keyakian kita bahwa pancasila adalah ideologi yang paling baik diantara sekian banyak ideologi yang ada di dunia, karena perumusnya adalah pala ulama nusantara yang sangat memahami kondisi Indonesia seutuhnya. Mengganti ideologi pancasila akan berhadapan dengan TNI dan juga polri karena dianggap meresahkan masyarakat dan mencoba merongrong kekuasaan melalui perubahan ideologi.
Untuk itu kita harus berhati-hati dalam mengikuti kegiatan berbau islami, bisa jadi kegiatan itu baik, dibungkus dengan label syariah yang pada akhirnya justru malah merubah ideologi negara kita menjadi negara khilafah. Ikutilah kegiatan keagamaan yang sudah lazim diikuti oleh orangtua kita, kakek nenek kita seperti tahlilan dan berzanzi. Karena itu adalah istighosah kecil yang bisa kita laksanakan setiap minggu, bukan melakukan bid’ah yang sering mereka desuskan selama ini.
Minggu, 15 November 2020
FILE SAMPAH
Hari kamis kemarin, komting (ketua) kelasku di program pascasarjana mengkritik tentang status WA yang tidak ada artinya, status itu ibarat sampah karena tidak ada tagline dalam status tersebut. Status itu hanya berupa foto atau video yang kadang harus di download dulu. Lalu aku jelaskan kepadanya bahwa pembuatan status itu bertujuan untuk membersihkan file sampah yang ada di hape, berupa foto dan video. Karena eman sekali jika harus dibuang, maka saya buang (hapus) setelah saya bagikan ke status WA dan beberapa grup.
Teman saya lalu bercerita tentang sebuah mobil yang dibeli 15 tahun lalu. Kalau kita jual ke showroom mobil lagi mungkin harganya akan murah, karena model mobil sudah tidak up to date. Sedangkan jika kita jual ke pasar mobil harganya hanya naik sedikit, dan jika kita jual pada orang yang membutuhkan, mungkin harganya juga hampir sama. Lalu ditemukanlah sebuah tempat yang bisa menerima mobil itu dengan harga yang sangat tinggi. Tempat itu adalah toko barang antik.
Inti dari cerita itu adalah, semua orang mempunyai pangkat dan derajat yang berbeda di setiap tempat. Mungkin kita tidak berarti apa-apa di antara orang-orang tertentu, karena kita mungkin dianggap orang biasa. Namun ditempat yang berbeda pula kita bisa sangat berarti sehingga dihormati dan disegani oleh banyak orang. Artinya kita harus bisa memposisikan diri kita, ketika kita berada di suatu tempat. Misal di rumah, sekolah, pasar, atau tempat yang lain.
Sama dengan status WA yang mungkin dianggap biasa oleh beberapa orang, namun dianggap sampah oleh orang yang berpengetahuan. Karena status WA kita tidak ada artinya. Bisa jadi status WA akan sangat berarti bagi orang yang membutuhkan, mungkin saat kita menge-share lowongan pekerjaan atau sebuah kegiatan.
Tapi bagi saya, semua kembali kepada diri kita masing-masing. Komting dan beberapa teman pascasarjana sering sekali mengkritik bahkan menggojlok dengan caci maki yang menyakitkan hati. Namun saya tahu itu semua dilakukan karena saya berada di masa transisi (peralihan) dari orang awam menuju ilmuwan. Kuncinya juga sama, belajar dan terus belajar mengupdate diri sendiri dengan wawasan yang bermanfaat dan juga mengetahui perkembangan yang terjadi di saat ini. Tidak hanya diam atau pasif dengan perkembangan tersebut. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada semua teman pascasarjana universitas wahid hasyim semarang kepada saya, yang bersedia mengkritik saya. Kritik anda sekalian adalah sebuah kepedulian kepada seorang sahabat yang tidak bisa saya dapatkan ditempat lain.
Semenjak saat itu saya tidak lagi nyetatus di WA dengan sampah yang tidak berguna. Namun itu hanya berlaku beberapa hari saja, karena banyak sekali file sampah (foto/video) yang tidak berguna di HP saya. Jadi maafkan jika saya bandel. Bukan saya tidak peduli dengan kritik yang diberikan. Saya hanya merasa eman sekali jika file itu dibuang (hapus) begitu saja, jadi saya merasa perlu men-share foto/video tersebut. Maafkan aku kawan...
Teman saya lalu bercerita tentang sebuah mobil yang dibeli 15 tahun lalu. Kalau kita jual ke showroom mobil lagi mungkin harganya akan murah, karena model mobil sudah tidak up to date. Sedangkan jika kita jual ke pasar mobil harganya hanya naik sedikit, dan jika kita jual pada orang yang membutuhkan, mungkin harganya juga hampir sama. Lalu ditemukanlah sebuah tempat yang bisa menerima mobil itu dengan harga yang sangat tinggi. Tempat itu adalah toko barang antik.
Inti dari cerita itu adalah, semua orang mempunyai pangkat dan derajat yang berbeda di setiap tempat. Mungkin kita tidak berarti apa-apa di antara orang-orang tertentu, karena kita mungkin dianggap orang biasa. Namun ditempat yang berbeda pula kita bisa sangat berarti sehingga dihormati dan disegani oleh banyak orang. Artinya kita harus bisa memposisikan diri kita, ketika kita berada di suatu tempat. Misal di rumah, sekolah, pasar, atau tempat yang lain.
Sama dengan status WA yang mungkin dianggap biasa oleh beberapa orang, namun dianggap sampah oleh orang yang berpengetahuan. Karena status WA kita tidak ada artinya. Bisa jadi status WA akan sangat berarti bagi orang yang membutuhkan, mungkin saat kita menge-share lowongan pekerjaan atau sebuah kegiatan.
Tapi bagi saya, semua kembali kepada diri kita masing-masing. Komting dan beberapa teman pascasarjana sering sekali mengkritik bahkan menggojlok dengan caci maki yang menyakitkan hati. Namun saya tahu itu semua dilakukan karena saya berada di masa transisi (peralihan) dari orang awam menuju ilmuwan. Kuncinya juga sama, belajar dan terus belajar mengupdate diri sendiri dengan wawasan yang bermanfaat dan juga mengetahui perkembangan yang terjadi di saat ini. Tidak hanya diam atau pasif dengan perkembangan tersebut. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada semua teman pascasarjana universitas wahid hasyim semarang kepada saya, yang bersedia mengkritik saya. Kritik anda sekalian adalah sebuah kepedulian kepada seorang sahabat yang tidak bisa saya dapatkan ditempat lain.
Semenjak saat itu saya tidak lagi nyetatus di WA dengan sampah yang tidak berguna. Namun itu hanya berlaku beberapa hari saja, karena banyak sekali file sampah (foto/video) yang tidak berguna di HP saya. Jadi maafkan jika saya bandel. Bukan saya tidak peduli dengan kritik yang diberikan. Saya hanya merasa eman sekali jika file itu dibuang (hapus) begitu saja, jadi saya merasa perlu men-share foto/video tersebut. Maafkan aku kawan...
Kamis, 01 Oktober 2020
Tetangga masak gitu?
Akhirnya hari ini datang juga. Hari yang paling aku benci, karena kepulangannya. Sebut saja Deni, tetangga sebelah rumahku, sekaligus keponakan dari istriku. Dia pulang dari Jakarta. Setelah beberapa bulan disana. Padahal saat itu pandemic covid-19 mulai merebak, yaitu 16 maret 2020. Hari ini Jumat, 02 oktober 2020, dia balik lagi ke desa Ledok. Kedatangannya saja sudah bikin heboh keluarga, mulai dari listrik rumahnya yang harus dinyalakan, sampai berbagai persiapan kecil yang dilakukan oleh saudara sepupuku. Padahal sebelumnya berkali-kali dia bilang dengan gayanya yang sok kaya akan pasang listrik sendiri. Karena listrik yang aku pakai dan disalur sama dia adalah listrik musholla dengan status untuk kepentingan sosial.
Hal yang paling menyebalkan darinya adalah rasa menang sendiri, karena dia adalah cucu tertua dari mbah jami. Yang secara tidak langsung adalah keponakan dari istriku, itu sebabnya dia memanggilku “Pak Dhe”. Selain itu dia merasa paling pintar dalam segala hal, dan serba bisa, meski aku tidak tahu bagaimana kenyataannya. Hampir semua barang yang ada disini diakui sebagai miliknya. Karena yang membuat atau memasang adalah bapaknya. Aku sendiri tidak tahu yang sebenarnya, disini saya hanya anak mantu, dan disuruh menempati rumah Pak Lik yang kebetulan ada musholla di depan rumahnya. Semua barang dirumah ini kukira warisan dari Pak Lik dan tinggal pakai, ternyata malah diakui sebagai miliknya. Kalau misalnya dipakai bersama mungkin saya masih bisa memaklumi. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Dia membuat batas rumah sendiri sesuai versinya dan tidak boleh dijamah oleh keluargaku, padahal sebelumnya kami biasa memakainya, seperti kamar mandi yang letaknya di ujung rumah.
Karena rumah ini sudah jelas dibagi dua, saya sebetulnya ikhlas. Namun sifat semena-mena dan mengakui semua barang adalah miliknya plus rasa sok tahu dan sok bisa segalanya membuat saya eneg. Setiap kali ada masalah yang berhubungan dengannya saya lebih baik mundur. Karena saya merasa percuma berhubungan dengan orang seperti itu. Sifat yang terlihat justru malah kekanak-kanakan karena mau menang sendiri.
Kini dia pulang, aku berharap dia segera pergi lagi, meski aku belum tahu batang hidungnya pagi ini. Saudara sepupu yang lain pernah menasehati bahwa dia tidak akan bertahan lama tinggal di suatu tempat, jadi lihat saja kelakuannya. Namun dia lupa menyampaikan lihat juga penderitaan hidup sama dia. Rasa tertekan yang sering timbul karena tidak nyaman jika ada dia, seperti mata atau CCTV yang selalu mengintai kita jika melakukan sesuatu. Itu sebabnya saudara sepupuku mempersiapkan kedatangannya ala kadarnya seperti menyalakan listrik seperti yang dia pinta di dalam pesan WA. Namun bagiku EGP dan aku tidak mau tahu dengn apa yang dia lakukan. Bagiku wujuduhu ka adamini, keberadaannya seperti tidak ada karena rasa takut dan tertekan yang pernah dia berikan kepada keluargaku. Untuk kali ini mungkin aku belum bisa menuliskannya disini, karena terlalu sakit. Mungkin jika sudah terbiasa dengan tekanannya beberapa hari ke depan mungkin aku baru bisa menuliskannya.
Dan pesan adik sepupuku yang sekarang jadi guru di SMEA NEGERI 1 CEPU adalah bersabar dan berdoa. Yakinlah bahwa suatu saat semua hal akan menemukan masa indah, jika waktunya sudah tepat. Meski aku tak terlalu berharap, semoga itu benar-benar terjadi pada keponakan istriku yang satu ini. Semoga saja dia berubah menjadi lebih baik, setelah segala macam penderitaan menderanya dalam beberapa tahun berakhir ini.
Namun tak tahu juga sih, sifat manusia bisa berubah sesuai moodnya masing masing, sama seperti sifatku yang sekarang yang lagi gibahin dia di akun pribadi ini. Wkwkwk…
Hal yang paling menyebalkan darinya adalah rasa menang sendiri, karena dia adalah cucu tertua dari mbah jami. Yang secara tidak langsung adalah keponakan dari istriku, itu sebabnya dia memanggilku “Pak Dhe”. Selain itu dia merasa paling pintar dalam segala hal, dan serba bisa, meski aku tidak tahu bagaimana kenyataannya. Hampir semua barang yang ada disini diakui sebagai miliknya. Karena yang membuat atau memasang adalah bapaknya. Aku sendiri tidak tahu yang sebenarnya, disini saya hanya anak mantu, dan disuruh menempati rumah Pak Lik yang kebetulan ada musholla di depan rumahnya. Semua barang dirumah ini kukira warisan dari Pak Lik dan tinggal pakai, ternyata malah diakui sebagai miliknya. Kalau misalnya dipakai bersama mungkin saya masih bisa memaklumi. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Dia membuat batas rumah sendiri sesuai versinya dan tidak boleh dijamah oleh keluargaku, padahal sebelumnya kami biasa memakainya, seperti kamar mandi yang letaknya di ujung rumah.
Karena rumah ini sudah jelas dibagi dua, saya sebetulnya ikhlas. Namun sifat semena-mena dan mengakui semua barang adalah miliknya plus rasa sok tahu dan sok bisa segalanya membuat saya eneg. Setiap kali ada masalah yang berhubungan dengannya saya lebih baik mundur. Karena saya merasa percuma berhubungan dengan orang seperti itu. Sifat yang terlihat justru malah kekanak-kanakan karena mau menang sendiri.
Kini dia pulang, aku berharap dia segera pergi lagi, meski aku belum tahu batang hidungnya pagi ini. Saudara sepupu yang lain pernah menasehati bahwa dia tidak akan bertahan lama tinggal di suatu tempat, jadi lihat saja kelakuannya. Namun dia lupa menyampaikan lihat juga penderitaan hidup sama dia. Rasa tertekan yang sering timbul karena tidak nyaman jika ada dia, seperti mata atau CCTV yang selalu mengintai kita jika melakukan sesuatu. Itu sebabnya saudara sepupuku mempersiapkan kedatangannya ala kadarnya seperti menyalakan listrik seperti yang dia pinta di dalam pesan WA. Namun bagiku EGP dan aku tidak mau tahu dengn apa yang dia lakukan. Bagiku wujuduhu ka adamini, keberadaannya seperti tidak ada karena rasa takut dan tertekan yang pernah dia berikan kepada keluargaku. Untuk kali ini mungkin aku belum bisa menuliskannya disini, karena terlalu sakit. Mungkin jika sudah terbiasa dengan tekanannya beberapa hari ke depan mungkin aku baru bisa menuliskannya.
Dan pesan adik sepupuku yang sekarang jadi guru di SMEA NEGERI 1 CEPU adalah bersabar dan berdoa. Yakinlah bahwa suatu saat semua hal akan menemukan masa indah, jika waktunya sudah tepat. Meski aku tak terlalu berharap, semoga itu benar-benar terjadi pada keponakan istriku yang satu ini. Semoga saja dia berubah menjadi lebih baik, setelah segala macam penderitaan menderanya dalam beberapa tahun berakhir ini.
Namun tak tahu juga sih, sifat manusia bisa berubah sesuai moodnya masing masing, sama seperti sifatku yang sekarang yang lagi gibahin dia di akun pribadi ini. Wkwkwk…
Kamis, 10 September 2020
Hakim, Ainul dan Zaky
Mereka adalah trio kwek-kwek, pembuat onar di kelas kami. Selain asfa kelas akan terasa sepi jika tidak ada mereka. Hakim adalah alumni sebuah SMK yang sangat terkenal di kota cepu. Ibunya adalah primadona di jaman mudanya dulu. Karena saya juga kenal dengan ibunya. Dia adalah kakak kelas saya sewaktu sekolah. Namun kami tidak pernah bertemu. Saya masuk sekolah saat dia sudah lulus. Mungkin karena ibunya yang cantik, hakimpun mempunyai wajah yang tampan. Sayang dia pelo. Tidak bisa mengucapkan huruf R dengan jelas. Seperti orang jepang. Dia mengucap huruf R menjadi L. contoh laler menclok pager, jika hakim yang mengucapkannya maka akan terdengan lalel menclok pagel. Dan kelihatannya pelo nya hakim sangat parah.
Ainul, adalah keponakan dari sahabatku di MTs, namanya mabrur. Mabrur mempunyai suara yang sangat bagus dan sering adzan pada hari jumat di masjid. Dulu sewaktu kami masih di MTs kami sering latihan qiroah bersama. Meski suarsaya tidak begitu bagus, namun saya berhasil menghafalkan tujuh tausih lagu qiroah.
Zaki adalah anak pak amin, kepala MTs Darul Falah Cepu. Dulu dia adalah murid saya. Dan sekarang kita dipertemukan lagi sebagai peserta pelatihan bahasa inggris. Sama-sama sebagai murid. Namun rasa hormat nya kepada saya tidak berkurang. Karena saya selalu mengajarkan tidak ada mantan murid, apalagi mantan guru. Orang tang sudah mengajarkan ilmu kepada kita meski Cuma satu huruf, maka beliau adalah guru kita. Begitu kata sahabat ali bin abi thalib dalam kitab ta’limul muta’alim.
Kebetulan ketiga anak ini bersaudara, saya tidak bisa menjelaskan bagaimana hubungannya. Namun zaki yang paling tua. Sebab inul dan hakim kalau memanggil pak amin dengan sebutan pak dhe. Entah kebetulan atau tidak mereka berhasil mendaftar sebagai peserta BLK dan menjadi tim penggerak. Seperti saat ini, meski pelatihan sudah selesai namun mereka masih kompak di grup WA. Bahkan sering beberapa kali mengadakan acara rujakan dan makan-makan. Apalagi sekarang bulan muharrom. Banyak orang yang memperingati hari kelahirannya dengan bancak-an. Dan kita sering di undang untuk ikut makan makan. Termasuk pak cip sang penyelenggara pelatihan season 1 dan 2. Namun sayangnya saya jarang ikut. Karena rumah saya jauh sekali. Meski dalam hati juga ingin kumpul bersama teman-teman. Lagipula waktunya sering tidak pas, karena saya sering puasa senin kamis sejak setahun terakhir ini. Akhirnya hanya bisa mendoakan semoga mereka mendapat barokah di hari lahirnya.
Well... itu cerita tentang semua lelaki di kelas kami, BLK Komunitas bahasa inggris AL IANAH Cepu yang kami ikuti selama satu bulan. Minggu depan saya akan bercerita tentang ceweknya, karena banyak sekali. Dan mungkin juga kurang bahan yang bisa saya sajikan. Kalau menggambarkan karakter mereka sedikit demi sedikit mungkin bisa, biarpun tidak detil.
Owh ya, selain pak cip sebagai penyelenggara ada juga mas lolok, sang penjaga dan juga pak agung tukang cathering. Dan yang tentunya tak bisa saya tinggalkan yaitu gus syafa, pengasuh pondok pesantren al I’anah cepu sekaligus penyelenggara pelatihan ini. Sedikit demi sedikit saya akan bercerita tentang mereka untuk mengisi blog ini dan mengasah kemampuan saya dalam menulis terutama editing. Karena sebentar lagi saya akan disibukkan dengan menulis thesis sebagai syarat untuk meraih gelas S2. Magister di dunia pendidikan agama islam.
Guru menulis saya, bapak budi maryono pernah mengibaratkan menulis adalah sebuah kebisaaan, seperti bersepeda. Kalau tidak pernah naik sepeda, bagaimana kita bisa menulis.
Ainul, adalah keponakan dari sahabatku di MTs, namanya mabrur. Mabrur mempunyai suara yang sangat bagus dan sering adzan pada hari jumat di masjid. Dulu sewaktu kami masih di MTs kami sering latihan qiroah bersama. Meski suarsaya tidak begitu bagus, namun saya berhasil menghafalkan tujuh tausih lagu qiroah.
Zaki adalah anak pak amin, kepala MTs Darul Falah Cepu. Dulu dia adalah murid saya. Dan sekarang kita dipertemukan lagi sebagai peserta pelatihan bahasa inggris. Sama-sama sebagai murid. Namun rasa hormat nya kepada saya tidak berkurang. Karena saya selalu mengajarkan tidak ada mantan murid, apalagi mantan guru. Orang tang sudah mengajarkan ilmu kepada kita meski Cuma satu huruf, maka beliau adalah guru kita. Begitu kata sahabat ali bin abi thalib dalam kitab ta’limul muta’alim.
Kebetulan ketiga anak ini bersaudara, saya tidak bisa menjelaskan bagaimana hubungannya. Namun zaki yang paling tua. Sebab inul dan hakim kalau memanggil pak amin dengan sebutan pak dhe. Entah kebetulan atau tidak mereka berhasil mendaftar sebagai peserta BLK dan menjadi tim penggerak. Seperti saat ini, meski pelatihan sudah selesai namun mereka masih kompak di grup WA. Bahkan sering beberapa kali mengadakan acara rujakan dan makan-makan. Apalagi sekarang bulan muharrom. Banyak orang yang memperingati hari kelahirannya dengan bancak-an. Dan kita sering di undang untuk ikut makan makan. Termasuk pak cip sang penyelenggara pelatihan season 1 dan 2. Namun sayangnya saya jarang ikut. Karena rumah saya jauh sekali. Meski dalam hati juga ingin kumpul bersama teman-teman. Lagipula waktunya sering tidak pas, karena saya sering puasa senin kamis sejak setahun terakhir ini. Akhirnya hanya bisa mendoakan semoga mereka mendapat barokah di hari lahirnya.
Well... itu cerita tentang semua lelaki di kelas kami, BLK Komunitas bahasa inggris AL IANAH Cepu yang kami ikuti selama satu bulan. Minggu depan saya akan bercerita tentang ceweknya, karena banyak sekali. Dan mungkin juga kurang bahan yang bisa saya sajikan. Kalau menggambarkan karakter mereka sedikit demi sedikit mungkin bisa, biarpun tidak detil.
Owh ya, selain pak cip sebagai penyelenggara ada juga mas lolok, sang penjaga dan juga pak agung tukang cathering. Dan yang tentunya tak bisa saya tinggalkan yaitu gus syafa, pengasuh pondok pesantren al I’anah cepu sekaligus penyelenggara pelatihan ini. Sedikit demi sedikit saya akan bercerita tentang mereka untuk mengisi blog ini dan mengasah kemampuan saya dalam menulis terutama editing. Karena sebentar lagi saya akan disibukkan dengan menulis thesis sebagai syarat untuk meraih gelas S2. Magister di dunia pendidikan agama islam.
Guru menulis saya, bapak budi maryono pernah mengibaratkan menulis adalah sebuah kebisaaan, seperti bersepeda. Kalau tidak pernah naik sepeda, bagaimana kita bisa menulis.
Minggu, 06 September 2020
Asfa Oy
Sebelum saya bercerita tentang trio kwek kwek (sebutan untuk, hakim, inul dan zaki) saya akan menceritakan tentang Asfa. Salah seorang peserta pelatihan bahasa inggris yang selalu memakai sarung. Dia adalah alumni pondok pesantren al anwar sarang rembang. Dulunya dia alumni dari MTs AL Muhammad Cepu. Lalu melanjutkan di MA Yastamas Cepu. Dan mondok di AL-IANAH Cepu gang Delapan. Setelah lulus dari aliyah dia melanjutkan studinya di STAI AL ANWAR sarang rembang, sambil mondok disana.
Beberapa peserta perempuan mengaku kalau kelas terasa sepi kalau tidak ada Asfa. Maklum pembawaan Asfa sumeh dan selalu lucu dalam setiap tingkah lakunya. Suaranya keras dengan sedikit logat yang dibuat-buat, sehingga setiap kali dia berbicara selalu membuat orang terpingkal-pingkal. Asfa mempunyai gigi gingsul, gigi yang tumbuh tidak sempurna (tumpuk) namun justru itu menambah daya tariknya.
Dalam beberapa kegiatan yang diadakan oleh BLK (selama pelatihan)dia selalu mendapat kepercayaan sebagai master of ceremony (MC) tentu saja acara selalu heboh dengan gayanya. Meski bahasa inggrisnya banyak yang salah ketika membawakan acara, namun dia tetap pede. Toh kita juga gak begitu paham dengan bahasa inggris. Selain Mr. Nafa (sang tutor)yang penting speak up loudly.
Sayang pada acara pamungkas (jalan-jalan ke sarangan) dia tidak ikut karena persiapan ujian skripsi. Tentu saja sekarang dia sudah lulus dan jadi sarjana. Oleh karena itu acara ke sarangan menjadi garing tanpa dia. Selain itu tidak ada uang saku, sehingga membuat lemas semua peserta.
Akhir-akhir ini saya sering melihat dia di BLK mengantarkan snack dan juga makanan. Maklum dia dipasrahi oleh pengasuh pondok untuk ikut mengawasi santri-santri putra di AL-I’ANAH Cepu. Saya ketemu dia setiap hari karena saya juga ditunjuk untuk menjadi admin sementara di BLK, sebelum kuliah di semarang mulai.
Meski dia sudah tidak berucap bahasa inggris lagi, namun dia masih tetap lucu. Dan penampilannya yang memakai sarung dan kopyah tidak pernah ketinggalan. Semangatnya untuk mengabdi di pondok sangat bagus dan luar biasa sekali. Meski sering di kecewakan oleh lembaga. Mungkin sama seperti belajar sampai mati. Mengabdi kepada kyai juga sampai mati. Paling tidak harus respect sama pengasuh dan asatidznya.
Pada pelatihan ke tiga ini, Asfa membawa dua orang temannya dari sarang untuk ikut belajar bahasa inggris secara Cuma-Cuma. Dua orang temannya itu berasal dari tangerang dan jambi. Daerah yang sangat jauh dengan Cepu. Maklum niat awalnya adalah mondok di sarang. Sambil menunggu virus corona hilang, mereka memanfaatkan kesempatan belajardi BLK AL-I’ANAH CEPU untuk mendalami bahasa inggris sampai expert. Maklum kesempatan belajar seperti ini tidak akan dating dua kali. Meski ada masalah internal dengan lembaga, paling tidak kita mendapatkan ilmunya yang bias kita manfaatkan dimasa depan.
Ingat, belajar itu dimulai dari kita turun dari ayunan, dan beralhir sampai kita masuk ke liang lahat. Jadi selama masih ada kesempatan untuk belajar maka gunakanlah kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Beberapa peserta perempuan mengaku kalau kelas terasa sepi kalau tidak ada Asfa. Maklum pembawaan Asfa sumeh dan selalu lucu dalam setiap tingkah lakunya. Suaranya keras dengan sedikit logat yang dibuat-buat, sehingga setiap kali dia berbicara selalu membuat orang terpingkal-pingkal. Asfa mempunyai gigi gingsul, gigi yang tumbuh tidak sempurna (tumpuk) namun justru itu menambah daya tariknya.
Dalam beberapa kegiatan yang diadakan oleh BLK (selama pelatihan)dia selalu mendapat kepercayaan sebagai master of ceremony (MC) tentu saja acara selalu heboh dengan gayanya. Meski bahasa inggrisnya banyak yang salah ketika membawakan acara, namun dia tetap pede. Toh kita juga gak begitu paham dengan bahasa inggris. Selain Mr. Nafa (sang tutor)yang penting speak up loudly.
Sayang pada acara pamungkas (jalan-jalan ke sarangan) dia tidak ikut karena persiapan ujian skripsi. Tentu saja sekarang dia sudah lulus dan jadi sarjana. Oleh karena itu acara ke sarangan menjadi garing tanpa dia. Selain itu tidak ada uang saku, sehingga membuat lemas semua peserta.
Akhir-akhir ini saya sering melihat dia di BLK mengantarkan snack dan juga makanan. Maklum dia dipasrahi oleh pengasuh pondok untuk ikut mengawasi santri-santri putra di AL-I’ANAH Cepu. Saya ketemu dia setiap hari karena saya juga ditunjuk untuk menjadi admin sementara di BLK, sebelum kuliah di semarang mulai.
Meski dia sudah tidak berucap bahasa inggris lagi, namun dia masih tetap lucu. Dan penampilannya yang memakai sarung dan kopyah tidak pernah ketinggalan. Semangatnya untuk mengabdi di pondok sangat bagus dan luar biasa sekali. Meski sering di kecewakan oleh lembaga. Mungkin sama seperti belajar sampai mati. Mengabdi kepada kyai juga sampai mati. Paling tidak harus respect sama pengasuh dan asatidznya.
Pada pelatihan ke tiga ini, Asfa membawa dua orang temannya dari sarang untuk ikut belajar bahasa inggris secara Cuma-Cuma. Dua orang temannya itu berasal dari tangerang dan jambi. Daerah yang sangat jauh dengan Cepu. Maklum niat awalnya adalah mondok di sarang. Sambil menunggu virus corona hilang, mereka memanfaatkan kesempatan belajardi BLK AL-I’ANAH CEPU untuk mendalami bahasa inggris sampai expert. Maklum kesempatan belajar seperti ini tidak akan dating dua kali. Meski ada masalah internal dengan lembaga, paling tidak kita mendapatkan ilmunya yang bias kita manfaatkan dimasa depan.
Ingat, belajar itu dimulai dari kita turun dari ayunan, dan beralhir sampai kita masuk ke liang lahat. Jadi selama masih ada kesempatan untuk belajar maka gunakanlah kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Selasa, 01 September 2020
Diganggu makhluk halus
Sudah hampir tiga hari ini, saya sering sholat tidak konsentrasi, setiap kali konsentrasi selalu buyar, pikiran mblayang kemana-mana, ingat kerjaan dan lain sebagainya. Ada sebagian orang yang bilang bahwa itu dibuat oleh manusia. Namun jika aku tidak percaya, karena jika aku percaya bahwa ada kekuatan lain selain tuhan yang bisa merubah manusia, maka aku akan menjadi syirik. Jadi untuk menjaga perasaan mereka aku bilang saja kalau aku juga percaya, namun nyatanya tidak.
Kadang ada rasa ingin marah sendiri, teriak-teriak seperti orang gila. Entah apa sebabnya saya juga gak tahu, perasaan diganggu oleh mahluk lain sering muncul jika dalam kondisi seperti itu. Namun guruku pernah berpesan bahwa orang yang rutin membaca alquran dan melaksanakan sholat insya allah tidak akan diganggu oleh mahluk halus, hanya harus yakin dan percaya bahwa semua mahluk halus itu juga sama seperti kita, ciptaan allah. Untuk itu harus saling sapa meski menggunakan bahasa yang berbeda.
Tapi karena saya manusia biasa, perasaan merasa diganggu oleh orang dengan perantara mahkuk halus pun sering muncul, terlebih tetangga sebelah yang berada di Jakarta dulu pernah mempermasalahkan tanah yang sekarang saya tempati. Karena istri saya hanya anak angkat dari yang punya tanah, sedangkan dia adalah keponakan. Orang yang punya tanah tak lain adalah pak lik dari istri saya, jadi status kami adalah sama-sama keponakan, sedangkan paklik tidak mempunyai anak. Untuk itu beliau mengangkat keponakan sebagai anaknya dengan harapan besok kalau meninggal ada yang mendoakan dan merawat musholla. Karena paklik juga seorang kyai meski kelasnya hanya kyai kampung.
Bapak kandung saya pernah mewanti-wanti jangan sampai menjadi perpecahan apalagi pertengkaran antar saudara, karena barang warisan. Kasihan mereka yang sudah meninggal yang meninggalkan warisan tersebut, tentu mereka berharap anak cucunya bisa hidup damai dan sejahtera diatas tanah yang telah mereka wariskan. Namun kenyataannya mereka malah saling bertengkar dan rebutan tanah warisan. Untuk itu saya diam saja ketika beberapa hari saudara yang datang dari Jakarta merubah batas tanah.
Bahkan sambil bersendau gurau saya bilang pada istri saya, mungkin dia tidak tahu adzab bagi orang yang suka mengambil tanah orang lain, kuburannya sempit dan akan dihimpit bumi. Sungguh mengerikan. Meski tak sampai ke akhirat, hukuman itu sudah dating sekarang, meski sebetulnya tidak ada sangkut pautnya namun ada orang yang menghubungkannya juga ke masalah tanah tersebut.
Istrinya selingkuh dengan tetangga sebelah dan sekarang minta cerai. Padahal mereka sudah mempunyai seorang anak, secara otomatis anak tersebut akan tinggal bersama neneknya, sedangkan ibu bapaknya bekerja ditempat lain karena sudah cerai, jujur aku tidak pernah mendoakan seperti itu, toh mereka juga masih saudara, mana mungkin aku tega mendoakan keluarga sendiri berpisah dengan anak/istrinya. Karena yang namanya doa buruk pasti akan kembali juga kepada kita. Maka jika mendoakan orang, doakanlah yang baik meski orang itu kita benci, begitu pesan guru saya.
Dan perasaan sering tidak konsen itu mungkin didoakan oleh orang tersebut atau mungkin karena saya sedang banyak masalah, saya tidak tahu pasti yang jelas ketika sholat empat rokaat, ada perasaan bahwa sholat saya baru 3 rokaat, ataupun kalau sudah empat rokaat ada perasaan sholat yang saya lakukan terlalu banyak. Ah entahlah aku juga gak tahu mana yang benar mana yang salah, bingung.
Kadang ada rasa ingin marah sendiri, teriak-teriak seperti orang gila. Entah apa sebabnya saya juga gak tahu, perasaan diganggu oleh mahluk lain sering muncul jika dalam kondisi seperti itu. Namun guruku pernah berpesan bahwa orang yang rutin membaca alquran dan melaksanakan sholat insya allah tidak akan diganggu oleh mahluk halus, hanya harus yakin dan percaya bahwa semua mahluk halus itu juga sama seperti kita, ciptaan allah. Untuk itu harus saling sapa meski menggunakan bahasa yang berbeda.
Tapi karena saya manusia biasa, perasaan merasa diganggu oleh orang dengan perantara mahkuk halus pun sering muncul, terlebih tetangga sebelah yang berada di Jakarta dulu pernah mempermasalahkan tanah yang sekarang saya tempati. Karena istri saya hanya anak angkat dari yang punya tanah, sedangkan dia adalah keponakan. Orang yang punya tanah tak lain adalah pak lik dari istri saya, jadi status kami adalah sama-sama keponakan, sedangkan paklik tidak mempunyai anak. Untuk itu beliau mengangkat keponakan sebagai anaknya dengan harapan besok kalau meninggal ada yang mendoakan dan merawat musholla. Karena paklik juga seorang kyai meski kelasnya hanya kyai kampung.
Bapak kandung saya pernah mewanti-wanti jangan sampai menjadi perpecahan apalagi pertengkaran antar saudara, karena barang warisan. Kasihan mereka yang sudah meninggal yang meninggalkan warisan tersebut, tentu mereka berharap anak cucunya bisa hidup damai dan sejahtera diatas tanah yang telah mereka wariskan. Namun kenyataannya mereka malah saling bertengkar dan rebutan tanah warisan. Untuk itu saya diam saja ketika beberapa hari saudara yang datang dari Jakarta merubah batas tanah.
Bahkan sambil bersendau gurau saya bilang pada istri saya, mungkin dia tidak tahu adzab bagi orang yang suka mengambil tanah orang lain, kuburannya sempit dan akan dihimpit bumi. Sungguh mengerikan. Meski tak sampai ke akhirat, hukuman itu sudah dating sekarang, meski sebetulnya tidak ada sangkut pautnya namun ada orang yang menghubungkannya juga ke masalah tanah tersebut.
Istrinya selingkuh dengan tetangga sebelah dan sekarang minta cerai. Padahal mereka sudah mempunyai seorang anak, secara otomatis anak tersebut akan tinggal bersama neneknya, sedangkan ibu bapaknya bekerja ditempat lain karena sudah cerai, jujur aku tidak pernah mendoakan seperti itu, toh mereka juga masih saudara, mana mungkin aku tega mendoakan keluarga sendiri berpisah dengan anak/istrinya. Karena yang namanya doa buruk pasti akan kembali juga kepada kita. Maka jika mendoakan orang, doakanlah yang baik meski orang itu kita benci, begitu pesan guru saya.
Dan perasaan sering tidak konsen itu mungkin didoakan oleh orang tersebut atau mungkin karena saya sedang banyak masalah, saya tidak tahu pasti yang jelas ketika sholat empat rokaat, ada perasaan bahwa sholat saya baru 3 rokaat, ataupun kalau sudah empat rokaat ada perasaan sholat yang saya lakukan terlalu banyak. Ah entahlah aku juga gak tahu mana yang benar mana yang salah, bingung.
Langganan:
Postingan (Atom)





